8 Obat Hipertensi yang Ampuh Turunkan Tekanan Darah Tinggi

Obat hipertensi digunakan untuk membantu menurunkan dan mengontrol tekanan darah sehingga risiko stroke, penyakit jantung, dan kerusakan ginjal dapat dikurangi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, hipertensi umumnya ditandai dengan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih berdasarkan pengukuran pada dua hari berbeda. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Namun, tidak ada satu obat hipertensi yang paling ampuh untuk semua orang. Pemilihan obat perlu disesuaikan dengan tingkat tekanan darah, usia, kondisi jantung dan ginjal, penyakit penyerta, serta respons tubuh pasien.
Apa Obat Hipertensi yang Paling Ampuh?
Obat hipertensi yang paling ampuh adalah obat yang sesuai dengan kondisi pasien dan dikonsumsi secara rutin berdasarkan petunjuk dokter.
Pedoman Kementerian Kesehatan menyebutkan lima golongan utama obat antihipertensi, yaitu ACE inhibitor, ARB, beta blocker, calcium channel blocker, dan diuretik. Sebagian pasien juga membutuhkan kombinasi dua obat agar target tekanan darah lebih mudah tercapai.
Berikut delapan obat hipertensi yang umum diresepkan dokter.
1. Amlodipine
Amlodipine termasuk golongan calcium channel blocker atau CCB. Obat ini membantu merelaksasi pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan tekanan darah menurun.
Amlodipine dapat digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan obat hipertensi lain. Pemilihan dosis harus disesuaikan dengan kondisi pasien. (Organisasi Kesehatan Dunia)
2. Captopril
Captopril termasuk golongan ACE inhibitor. Obat ini bekerja dengan menghambat pembentukan angiotensin II, yaitu zat yang dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Ketika pembuluh darah lebih rileks, tekanan darah dapat menurun dan kerja jantung menjadi lebih ringan. Fungsi ginjal serta kadar kalium mungkin perlu dipantau selama penggunaan obat ini.
3. Ramipril
Ramipril juga termasuk dalam kelompok ACE inhibitor. Cara kerjanya serupa dengan captopril, yaitu membantu mencegah penyempitan pembuluh darah.
Meski berada dalam golongan yang sama, jadwal penggunaan dan dosis ramipril dapat berbeda. Pasien tidak disarankan mengganti captopril dengan ramipril tanpa arahan dokter.
4. Candesartan
Candesartan merupakan obat golongan angiotensin receptor blocker atau ARB. Obat ini menghambat kerja angiotensin II sehingga pembuluh darah menjadi lebih rileks.
Candesartan dapat dipertimbangkan pada pasien hipertensi, termasuk pasien dengan kondisi jantung atau ginjal tertentu. Penggunaannya tetap memerlukan pemantauan tenaga kesehatan.
5. Irbesartan
Irbesartan juga termasuk obat golongan ARB. Obat ini membantu menurunkan tekanan darah dengan mengurangi efek angiotensin II yang dapat menyempitkan pembuluh darah.
Dokter dapat memberikan irbesartan sebagai obat tunggal atau mengombinasikannya dengan golongan lain berdasarkan kondisi pasien.
6. Valsartan
Valsartan membantu membuat pembuluh darah lebih rileks sehingga darah dapat mengalir dengan lebih mudah.
Obat ini dapat digunakan untuk mengontrol hipertensi dan pada kondisi jantung tertentu. Namun, valsartan tidak boleh digunakan bersamaan dengan ACE inhibitor tanpa pertimbangan dokter karena kombinasi dua penghambat sistem renin-angiotensin tidak direkomendasikan.
7. Hydrochlorothiazide
Hydrochlorothiazide atau HCT termasuk obat diuretik tiazid. Obat ini membantu ginjal membuang kelebihan garam dan cairan melalui urine.
Berkurangnya cairan dalam pembuluh darah dapat membantu menurunkan tekanan darah. Selama penggunaannya, dokter mungkin memantau fungsi ginjal dan kadar elektrolit pasien. (Organisasi Kesehatan Dunia)
8. Bisoprolol
Bisoprolol termasuk golongan beta blocker. Obat ini membantu memperlambat denyut jantung dan mengurangi beban kerja jantung.
Beta blocker sering dipertimbangkan pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti gagal jantung, riwayat serangan jantung, atau kebutuhan untuk mengontrol denyut jantung. Karena itu, bisoprolol belum tentu menjadi pilihan utama bagi semua penderita hipertensi.
Bagaimana dengan Furosemide?
Furosemide merupakan diuretik loop yang membantu mengeluarkan kelebihan cairan dan garam melalui urine.
Dalam pedoman Kementerian Kesehatan, furosemide ditempatkan sebagai obat lini kedua. Obat ini biasanya lebih dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti penumpukan cairan, gangguan ginjal berat, atau gagal jantung, bukan digunakan sendiri setiap kali tekanan darah meningkat.
Mengapa Tensi Masih Naik Turun meski Sudah Minum Obat?
Sebagian orang merasa sudah rutin mengonsumsi obat, tetapi tekanan darah masih berubah-ubah. Hal ini tidak selalu berarti obat gagal bekerja.
Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh konsumsi makanan tinggi garam, stres, kurang tidur, kebiasaan merokok, berat badan, aktivitas fisik, cara pengukuran, hingga jadwal minum obat yang tidak teratur. Karena itu, hasil pengukuran sebaiknya dicatat dan dibicarakan dengan dokter. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Jangan menambah dosis, mengganti, atau menghentikan obat sendiri. Penghentian mendadak pada obat tertentu, seperti beta blocker, dapat membahayakan pasien.
Herbal sebagai Pendamping Pengobatan
Tekanan darah yang masih naik turun sering membuat penderita merasa khawatir. Ada pula yang takut terhadap kemungkinan efek samping penggunaan obat dalam jangka panjang sehingga mulai mencari pilihan berbahan alami.
Kekhawatiran tersebut sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter dan tidak dijadikan alasan untuk langsung menghentikan obat. Herbal dapat digunakan sebagai pendamping pola hidup sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Salah satu produk pendamping yang tersedia adalah Jamtens, obat tradisional cair dengan kandungan seledri atau Apium graveolens dan sirih merah atau Piper crocatum. Berdasarkan keterangan produsennya, Jamtens secara tradisional digunakan untuk membantu meringankan gejala tekanan darah tinggi ringan dan terdaftar dengan nomor izin edar BPOM TR 203638461. (Genta Niaga Wijaya)
Penderita yang sedang menggunakan obat hipertensi atau memiliki gangguan jantung dan ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengombinasikan obat dengan herbal. Jangan mengurangi maupun menghentikan obat dokter hanya karena mulai mengonsumsi Jamtens.
Cara Membantu Mengontrol Tekanan Darah
Obat hipertensi akan bekerja lebih optimal jika disertai gaya hidup sehat, seperti:
- Mengurangi konsumsi garam.
- Memperbanyak sayur dan buah.
- Berolahraga secara rutin.
- Menjaga berat badan sehat.
- Berhenti merokok.
- Tidur cukup dan mengelola stres.
- Mengukur tekanan darah secara berkala.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan pembatasan garam, olahraga aerobik secara rutin, pengendalian berat badan, serta penghentian kebiasaan merokok sebagai bagian dari penanganan hipertensi.
Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?
Tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih yang disertai nyeri dada, sesak napas, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, kebingungan, kelemahan tubuh, atau gangguan bicara memerlukan pertolongan medis segera. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Kesimpulan
Amlodipine, captopril, ramipril, candesartan, irbesartan, valsartan, hydrochlorothiazide, dan bisoprolol memiliki cara kerja serta kegunaan yang berbeda.
Obat hipertensi paling ampuh bukanlah obat dengan merek atau harga tertentu, melainkan obat yang dipilih berdasarkan kondisi pasien dan dikonsumsi sesuai petunjuk dokter. Jamtens dapat digunakan sebagai pendamping pola hidup sehat, tetapi tidak boleh menggantikan obat medis tanpa persetujuan dokter.